THE SPIRITUALITY OF POLLYANNA

Rabu kemarin, tepatnya 21 Oktober 2015, kelompok T’RAS (Tutorship Rolland A. Samson) berkesempatan menyajikan materi yang bertajuk The Spirituality of Pollyanna. Pollyanna sebenarnya judul sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 1913 di Inggris. Buah pena Eleanor Porter ini mengusung judul Pollyanna sesuai dengan nama dari tokoh utama dalam novel itu. Pollyanna adalah seorang anak yatim yang dibesarkan oleh tantenya yang cukup kaya namun sangat kejam dan kikir di kota Beldingsville. Sekalipun masih kecil, Pollyanna tetap tegar berhadapan dengan berbagai lika-liku hidup yang datang bukan hanya dari tantenya yang kejam itu, tapi juga dari lingkungan masyarakat. Apa yang menjadikan Pollyanna tegar menghadapi semua tantangan hidupnya?

Pollyanna memiliki sebuah permainan yang diwariskan dari ayahnya yaitu “The Glad Game”. Permainan itu adalah sebuah permainan untuk menemukan sesuatu yang baik pada setiap situasi apapun bentuknya dan betapapun besarnya resiko yang dihadapi. Inilah spiritualitas yang dikembangkan oleh Eleanor dalam karyanya ini. Spiritualitas ini beirirngan dengan anjuran Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika “Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal…” (I Tesalonika 5:16-18) Orang akan mampu mengucap syukur dalam segala hal bila ia mampu melihat kebaikan Tuhan yang terus merawatnya meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Spiritualitas Pollyanna inilah yang perlu juga dipelajari, didalami, bahkan dialami oleh civitas academica Fakultas Teologi UKIM. Dengan mengeksplorasi Tata Ibadah yang diatur seperti pembacaan surat berantai, acara Rabu Spiritualitas pada Rabu kemarin dilaksnakan di bawah payung tema The Spirituality of Pollyanna.

Term Pollyanna selanjutnya menjadi istilah yang terdaftar pada Kamus Bahasa Inggris dari Cambridge. Pollyanna didefinisikan sebagai orang yang percaya bahwa hal-hal baik lebih sering terjadi dibandingkan dengan hal-hal buruk, bahkan pada hal-hal yang tidak disenangi sekalipun pasti ada hal-hal baik yang tersembunyi di dalamnya.  Semoga spiritualitas ini juga menjadi bekal sederhana yang bisa dikembangkan oleh para pengibadah (selebrasi) tapi juga dalam kembara hidup setiap hari sebagai sebuah aksi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *