Sosialisasi Anti Narkoba dengan BNN

Fakultas Teologi UKIM mengadakan Sosialisasi Anti Narkoba bekerjasama dengan BNN.

HUT Fakultas Teologi UKIM

HUT (Hari Ulang Tahun) fakultas Teologi UKIM di adakan di AULA universitas.

Salak Merah Menjadi Saksi Koinonia T’RAS bersama Jemaat GPM Riring Rumasoal

Pada bulan Agustus yang lalu, tepatnya pada bilang 21-25, kelompok Tutorship Rolland A. Samson mewujudkan salah satu panggilan gereja yakni Koinonia. Kelompok Tutor yang lebih dikenal dengan nama T’RAS ini melabuhkan sauh koinonianya pada sebuah jemaat di pegunungan Taniwel yakni Jemaat GPM Riring-Rumasoal.

Setelah bermalam di pelabuhan Fery, desa Liang, untuk mengejar trayek pertama menuju ke Taniwel, T’RAS tiba pada pukul 14.15 WIT di Taniwel. Perjalanan terus dilanjutkan dengan menggunakan mobil pick-up selama kurang lebih 90 menit menuju ke pasar gunung yang terletak di antara Jemaat GPM Buria dan Riring. Walaupun telah letih sesudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, namun T’RAS belum bisa beristirahat karena perjalanan masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 120 menit mendaki gunung dan menuruni lembah supaya segera tiba di Jemaat GPM Rring-Rumasoal.

Keterangan: beberapa anggota T’RAS berpose bersama beberapa anggota jemaat GPM Riring-Rumasoal sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki

Jemaat yang terdiri dari dua negeri yakni Riring dan Rumasoal, dilayani oleh seorang Pdt. Y. Makatita sebagai Ketua Majelis Jemaat dan Pdt. J. Poceratu/M sebagai Pendeta Jemaat. Jemaat yang terletak di pegunungan ini memang dianugerahi hutan yang melimpah dengan hasilnya. Salah satu komoditi yang khas dan terkenal dari hutan di Riring-Rumasoal adalah Salak Merah.

Keletihan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh itu, akhirnya dipuaskan oleh beberapa warga jemaat GPM Riring-Rumasoal. T’RAS dipuaskan bukan dengan pijatan hangat ataupun terapi penghilang letih, melainkan dengan Salak Merah. Bahkan T’RAS diberi izin untuk memetik langsung dari pohonnya. Buah yang hanya ada di pegunungan Riring dan Rumasoal ini memang sungguh beda rasanya. Manis rasanya, renyah dagingnya, cantik warnanya, unik buahnya.

 

Salak Merah bukan hanya menjadi penawar keletihan yang melanda T’RAS. Salak Merah juga sudah menjadi saksi indahnya persaudaraan yang tercipta antara T’RAS dan jemaat GPM Riring-Rumasoal. Selain menikmati lezatnya Salak Merah, T’RAS juga disuguhkan dengan keakraban gotong royong yang terbina dalam suasana pembangunan gedung gereja. Tidak ketinggalan, T’RAS pun langsung menerjunkan diri dalam kerja fisik bersama dengan warga jemaat lainnya. Walaupun harus diakui bahwa mungkin tenaga yang dimiliki T’RAS tidak sebanding dengan tenaga yang dipunyai warga jemaat GPM Riring-Rumasoal. Namun setidaknya, jari-jemari T’RAS pernah menapak di sana dan turut merasakan susah-sukanya membangun gedung gereja bersama warga jemaat. Tentu ada banyak pengalaman berharga lainnya yang tidak sempat diungkapkan di sini. Namun biarlah gambar-gambar berikut ini yang berbicara bagi pembaca:

THE SPIRITUALITY OF POLLYANNA

Rabu kemarin, tepatnya 21 Oktober 2015, kelompok T’RAS (Tutorship Rolland A. Samson) berkesempatan menyajikan materi yang bertajuk The Spirituality of Pollyanna. Pollyanna sebenarnya judul sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 1913 di Inggris. Buah pena Eleanor Porter ini mengusung judul Pollyanna sesuai dengan nama dari tokoh utama dalam novel itu. Pollyanna adalah seorang anak yatim yang dibesarkan oleh tantenya yang cukup kaya namun sangat kejam dan kikir di kota Beldingsville. Sekalipun masih kecil, Pollyanna tetap tegar berhadapan dengan berbagai lika-liku hidup yang datang bukan hanya dari tantenya yang kejam itu, tapi juga dari lingkungan masyarakat. Apa yang menjadikan Pollyanna tegar menghadapi semua tantangan hidupnya?

Pollyanna memiliki sebuah permainan yang diwariskan dari ayahnya yaitu “The Glad Game”. Permainan itu adalah sebuah permainan untuk menemukan sesuatu yang baik pada setiap situasi apapun bentuknya dan betapapun besarnya resiko yang dihadapi. Inilah spiritualitas yang dikembangkan oleh Eleanor dalam karyanya ini. Spiritualitas ini beirirngan dengan anjuran Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika “Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal…” (I Tesalonika 5:16-18) Orang akan mampu mengucap syukur dalam segala hal bila ia mampu melihat kebaikan Tuhan yang terus merawatnya meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Spiritualitas Pollyanna inilah yang perlu juga dipelajari, didalami, bahkan dialami oleh civitas academica Fakultas Teologi UKIM. Dengan mengeksplorasi Tata Ibadah yang diatur seperti pembacaan surat berantai, acara Rabu Spiritualitas pada Rabu kemarin dilaksnakan di bawah payung tema The Spirituality of Pollyanna.

Term Pollyanna selanjutnya menjadi istilah yang terdaftar pada Kamus Bahasa Inggris dari Cambridge. Pollyanna didefinisikan sebagai orang yang percaya bahwa hal-hal baik lebih sering terjadi dibandingkan dengan hal-hal buruk, bahkan pada hal-hal yang tidak disenangi sekalipun pasti ada hal-hal baik yang tersembunyi di dalamnya.  Semoga spiritualitas ini juga menjadi bekal sederhana yang bisa dikembangkan oleh para pengibadah (selebrasi) tapi juga dalam kembara hidup setiap hari sebagai sebuah aksi.